Wajib BEP Dalam 4 HARI

Wajib BEP Dalam 4 HARI
LARIS : Saat istirahat stan Kewirausahaan diserbu pengunjung

POLTEKOM – Pemberlakuan kurikulum 70 persen praktek dan 30 persen teori berlaku pada semua mata kuliah di Politeknik Kota Malang (POLTEKOM). Tidak hanya perkuliahan keteknikan tetapi juga mata kuliah lain termasuk Kewirausahaan. Seperti tampak 4 (empat) hari terakhir (11 – 14 April) dilantai 1 gedung A dipenuhi stan dagangan menyajikan jajanan, makanan ringan hingga juice aneka rasa.

Dari pantauan humas, para penjual adalah mahasiswa peserta mata kuliah Kewirausahaan dan mereka menyajikan ice marbie, kentang spiral, sari kacang kedelei, rujak buah, ketan keju, tahu persis, cireng, aneka jenis tempura sempol dan lain-lain.
Dosen Pembina Mata kuliah Kewirausahaan Imam Kusyairi, S.Pd, MT menandaskan, melalui kegiatan ini diharapkan mahasiswa memiliki kepekaan berwirausaha sebagai modal nantinya terjun di masyarakat. Setelah memiliki ide bisnis kemudian dituangkan dalam proposal maka mahasiswa wajib menjalankan bisnis sekaligus mengevaluasinya.
“Target akhir dalam 4 hari harus sudah kembali modal atau BEP,” terangnya.
Jika tidak terpenuhi lanjut Imam, maka mahasiswa bersangkutan tidak akan diluluskan. Itu artinya menjalankan bisnis tidak boleh main-main atau setengah-setengah. Sejak penemuan ide, penuangan ide dalam proposal bisnis hingga pelaksanaan harus dilakukan dengan cermat. Dibutuhkan kejelian, keberanian, terobosan dan inovasi menjalankan usaha serta tak lupa ada target dari usaha. Dengan begitu, ada kurun waktu pencapaian usaha jangka pendek berupa pengembalian modal  atau BEP (Break Even Point), jangka menengah serta jangka panjang. Pria berkacamata ini mencontohkan saat menjual produk mahasiswa bisa melakukan jemput bola atau menjajakan dagangannya di seputar kampus dan tidak hanya menunggu pembeli datang ke stan.

“Ada mahasiswa yang sudah melakukan itu,” cetusnya seraya menyebut modal awal masing-masing tim berasal dari modal pinjaman kampus.
Dengan cara tersebut, Imam berharap muncul wirausaha-wirausaha muda dari POLTEKOM yang memiliki mental baja dan sanggup menghadapi ujian, tantangan, hambatan, ancaman maupun cobaan dalam menjalankan bisnisnya.
Mas’ud Dwi Abdullah salah seorang mahasiswa mengaku sangat tertantang saat praktek berjualan. Ia dan timnya memilih menjual Sempol. Produk ini dipilih karena harganya ekonomis serta banyak disukai kaum muda.
“Kami pilih yang harganya bersahabat sesuai kantong mahasiswa,” jelas mahasiswa Teknik Mekatronika ini. (din)