Pangkas Syirik, Takmir Gelar Ruqyah

Pangkas Syirik, Takmir Gelar Ruqyah
SYAR'IYAH : Ustad Irfan menjelaskan perbedaan ruqyah syar'iyah dan sirkiyah kepada jamaah.
SYAR’IYAH : Ustad Irfan menjelaskan perbedaan ruqyah syar’iyah dan sirkiyah kepada jamaah.

POLTEKOM – Ketika mendengar kata ruqyah, terbayang dalam benak kita ada orang yang teriak-teriak histeris karena kerasukan, tubuh mereka kejang-kejang dirasuki jin dan berbicara kesana kemari tanpa ada yang mengerti. Terkadang tanpa sebab mereka juga memaki pada orang-orang di sekitarnya.  Pada kenyataannya, ruqyah justru lebih luas dari itu. Ustadz Irfan Abu Naveed, praktisi ruqyah dari Sukabumi Jawa Barat yang telah 7 tahun berpraktik ruqyah  menjelaskan, secara bahasa ruqyah berarti berdoa meminta pertolongan kepada Allah SWT.

Dalam Islam dikenal dua jenis ruqyah, yaitu ruqyah syar’iyah dan ruqyah syirkiyah. Ruqyah syar’iyah merupakan ruqyah yang dilakukan sesuai syariat Islam, sementara ruqyah syirkiyah merupakan ruqyah yang dilarang. Selama ini masyarakat belum tahu jika ruqyah itu ada dua jenis. Sehingga selalu menganggap ruqyah merupakan sesuatu yang haram.

Demikian disampaikan Ustadz Irfan Abu Naveed di acara “Pelatihan & Praktek Ruqyah Syar’iyah” yang di selenggarakan takmir masjid As Syifa kampus POLTEKOM, Senin(16/3) kemarin. Kegiatan diikuti seluruh dosen, karyawan, mahasiswa hingga masyarakat sekitar  kampus yang terletak di wilayah Tlogowaru Malang ini.

“Ada dua jenis ruqyah, yang satu sesuai kaidah syariah satunya lagi justru sirik,” ungkapnya.

Pria berkulih bersih ini menambahkan, Ruqyah berasal dari bahasa Arab yang pengertiannya adalah bacaan-bacaan tertentu yang dimaksudkan untuk memberikan efek pengobatan kepada penyakit, baik jasmani maupun rohani. Hakikat Ruqyah adalah doa. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ra mengatakan ruqyah merupakan salah satu bentuk ritual doa.

Meski demikian, seyogyanya kaum muslimin harus juga berhati-hati dalam mengamalkan Ruqyah, mengingat tipis saja perbedaanya dengan praktik jampi-jampi yang sering sekali dipakai para pelaku syirik atau sihir.

Justru fenomena yang ada sekarang adalah, di masyarakat kini merebak praktek perdukunan yang memanfaatkan jin untuk membantu penyembuhan misalnya menggunakan tulisan arab (rajah, red) dituliskan dalam benda-benda tertentu seperti telor, kain dan lain-lain untuk penyembuhan. Ada masalah sedikit dengan kesehatan masyarakat cenderung lari ke dukun dan bukan berobat ke dokter.

“Itu yang harus di hindari,” terangnya di sesi tanya jawab.

Pria ramah yang juga penulis buku “Menyingkap Jin dan Dukun Hitam Putih”  ini menambahkan, saat seseorang kena sihir atau menderita penyakit yang tidak dikenali yang harus dilakukan adalah memurnikan akidah, meneguhkan pondasi tauhid, menunaikan seluruh kewajiban sebagai bukti ketaatan dan perbanyak sunnah lalu mulailah terapi ruqyah. Baik dibacakan al Quran ataupun memperbanyak baca al Quran dengan niat untuk penyembuhan. Setelah itu rutin ruqyah mandiri dan tinggalkan seluruh bentuk kemaksiatan hingga kita benar-benar membencinya.

“Perlahan setelah ruhani kita sembuh maka jasad akan ikut sembuh!” tegasnya.

Usia mengikuti sesi ruqyah sebagian jamaah mengaku plong dan lebih segar, sebab ‘sesuatu’ yang selama ini mereka simpan sudah di hilangkan oleh tim peruqyah dari Sukabumi tersebut.

“Alhamdulillah, tadi usai di ruqyah saya bisa muntah dan itu membuat saya lega,” papar salah seorang jamaah berbaju koko putih lengan pendek, berkaca mata yang enggan di sebutkan namanya. (din)